Senin, 11 Januari 2021

Materi Kelas 8: Membuat Poster

 

Membuat Poster 

 

Poster merupakan salah satu sarana cara untuk menyampaikan pesan. Isi pesan pada poster biasanya menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Poster juga sering digunakan untuk mempromosikan pertunjukkan seperti pementasan film, tari, atau music, dan teater. Poster juga digunakan untuk mengampanyeukan seperti kesehatan, lingkungan, dan sejenisnya.
A.    Konsep Membuat Poster.
Poster merupakan sebuah karya seni yang memuat komposisi antara huruf dan gambar. Poster dibuat dalam berbagai macam ukuran sesuai dengan kebutuhan. Ada poster yang dibuat dengan ukuran besar tetapi ada juga yang dibuat dengan ukuran kecil. Penempatan poster tergantung dari media dan bahan yang digunakan. Ada poster sering ditempelkan pada dinding jika menggunakan media kertas. Poster juga sering ditempel pada baliho jika ukurannya besar. Ciri utama dari poster mempunyai sifat menarik perhatian mata, sehingga berbagai desain poster dibuat berwarna – warni lengkap dengan warna kontras sehingga menarik perhatian.
Poster memiliki fungsi menyampaikan pesan secara singkat dengan menggunakan kata dan gambar. Untuk itu dalam membuat poster ada kesatuan utuh antara gambar yang ditampilkan dengan kata yang ditulis. Pada poster kata hendaknya ditulis sesingkat mungkin tetapi memiliki pesan kuat dan jelas. Coba perhatikan beberapa poster berikut :
Kadua poster tersebut merupakan ajakan untuk hidup sehat, yaitu membuang sampah pada tempatnya dan mencuci tangan setelah melakukan aktivitas.
1.      Poster Pertama.
Pada poster pertama bentuk visual dan kalimat singkat, jelas dan padat.
2.      Poster Kedua.
Pada poster kedua merupakan langkah – langkah yang harus dilakukan dalam mencuci tangan.
Keduanya memiliki fungsi sama yaitu mengajak hidup lebih sehat.
Perhatikan kedua poster tersebut. Keduanya merupakan poster tentang lingkungan hidup tetapi memiliki ajakan yang berbeda.
1.      Poster Pertama.
Pada poster pertama merupakan ajakan melakukan ekspedisi ke hutan di Kalimantan
2.      Poster Kedua.
Poster kedua ajakan untuk mencegah banjir.
Jadi pada prinsipnya dalam membuat poster ada aturan tertentu sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan.
B.     Syarat Membuat Poster.
Untuk membuat sebuah poster, dibutuhkan beberapa syarat baik dalam bentuk gambar maupun kata – kata. Ada beberapa langkah yang harus dilalui dalam membuat poster. Langah – langkah tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Menentukan Topik dan Tujuan.
Sebelum membuat poster, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tema. Penentuan tema berdasarkan pesan yang ingin disampaikan. Misalnya, tema tentang anti korupsi. Berdasarkan tema tersebut, kemudian mulai pikirkan bentuk visualisasinya dan kata yang digunakan untuk memperkuat gambar visual tersebut.
2.      Membuat Kalimat Singkat dan Mudah Diingat.
Poster berfungsi mengirim pesan kepada orang yang melihatnya, untuk itu pilih kata yang singakt tetapi berkesan. Dengan melihat kata dan gambar, orang akan senantiasa ingat terhadap pesan yang ingin disampaikan. Orang yang melihat poster secara cepat. Untuk itu, buatlah kalimat yang singkat agar biasa dibaca hanya dalam waktu beberapa detik saja. Melalui bahasa singkat tersebut, pesan yang ditulis oleh para pembuat poster bisa tersampaikan dengan baik. Buatlah kalimat yang jelas serta menarik perhatian orang untuk melakukan sesuatu.
3.      Menggunakan Gambar.
Selain menggunakan kata atau kalimat, poster juga disertai gambar. Penggunaan gambar sebagai salah satu penyampai pesan yang paling menarik. Proporsi penggunaan gambar dengan kata atau kalimat disesuaikan dengan kebutuhan informasi yang akan disampaikan. Penggunaan gambar dan kata dapat juga dilakukan dengan gambar proporsi yang jauh lebih besar dibandingkan tulisan. Pada poster sebaiknay dengan menggunakan warna – warna yang mencolok sehingga mengundang perhatian dan minat orang untuk membaca atau melihat.
4.      Menggunakan Media yang Tepat.
Penggunaan media dalam membuat poster dapat disesuaikan dengan tempat poster akan diletakkan. Jika poster tersebut diletakkan pada papan baliho, maka media yang digunakan dapat berupa kain atau sejenisnya. Jika poster tersebut akan diletakkan pada dinding, maka dapat menggunakan media kertas. Saat sekarang ini penggunaan media dalam membuat poster sangat beragam. Ada juag poster yang sudah dicetak secara digital.
Membuat poster dapat dilakukan tidak hanya menggunakan peralatan dan bahan seperti membuat gambar atau lukisan, tetapi juga dapat menggunakan alat bantu computer. Pembuat poster dengan menggunakan alat bantu computer. Pembuat poster dengan menggunakan alat bantu computer memudahkan dalam berekspresi. Karena, jika ada kesalahan dapat segera diganti. Berbeda jika membuat poster dengan menggunakan dengan teknik menggambar manua, yang jika ada kesalahan sulit untuk melakukan revisi atau perbaikan. Membuat poster unsur utama yang penting adalah pesan yang ingin disampaikan, baru kemudian unsur keindahan.
C.    Alat dan Bahan.
Poster dapat diterapkan pada beberapa jenis bahan seperti kertas, karton bahkan kanvas. Bahan – bahan yang digunakan dapat berupa alat menggambar manual seperti dan alat menggambar digital, contohnya computer. Perbedaan alat dan bahan tersebut berdampak pada nilai keindahan. Beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam membuat poster antara lain sebagai berikut :  
1.      Pensil Menggambar.
Pensil yang digunakan dalam menggambar yaitu ukuran pensil 2B – 6B.
2.      Pulpen.
Pulpen digunakan sebagai alat untuk membuat gambar dengan karakter tegas pada garis – garis gambarnya.
3.      Kuas Lukis.
Kuas digunakan untuk membuat poster berbahan kain atau pun jenis kanvas yang biasanya untuk membuat sebuah lukisan. Untuk membuat poster dengan bahan kuas, terdiri dari dua macam cat yang digunakan yaitu cat berbahan dasar minyak dan cat berbahan dasar air. Sehingga pada saat pembuatan poster, kita dapat menentukan cat sesuai bahan media yang hendak digunakan.
4.      Komputer.
Membuat poster dapat juga menggunakan media computer. Selain lebih mudah, penggunaan computer pada pembuatan poster dinilai lebih efektif karena kita tidak kuatir akan kesalahan, baik pada tema, naskah, gambar dan warna yang telah dibuat. Dengan media computer, kita dapat melakukan perbaikan kesalahan (revisi) pada poster yang mengalami kesalahan dalam proses pembuatannya. Selain itu, kita dimudahkan dalam pemilihan tema, naskah, gambar dan warna yang akan digunakan karena pada computer jelas kita tidak perlu repot menyiapkan alat menggambar manual serta bahan pewarna terlebih dahulu. Untuk membuat poster dengan media ini, harus menggunakan Software khusus untuk menggambar dengan pilihan dan jenis program menggambar yang beragam. Selain itu, membutuhkan skill serta keterampilan khusus pula untuk menjalankan program menggambar melalui media computer tersebut.

Sumber: http://www.erwinedwar.com/2018/09/membuat-poster-materi-seni-budaya-smp.html?m=1

Kamis, 07 Januari 2021

Materi Kelas 9. Seni Grafis

 

Seni Grafis 


A.    Pengertian Seni Grafis.
Seni grafis termasuk karya seni rupa Dwimatra yang dibuat untuk mencurahkan ide / gagasan dan emosi seseorang dengan menggunakan teknik cetak, sehingga memungkinkan pelipat gandaan karyanya. Istilah seni grafis dikenal juga dengan seni mencetak. Grafis berasal dari bahasa Yunani, “Graphien”, yang berarti menulis atau menggambar. Istilah grafis dari Bahasa Inggris adalah graph atau graphic yang berarti dapat membuat tulisan, lukisan dengan cara ditoreh atau digores. Cetakan yang dimaksud disini adalah berupa Negatif Film yang bisa menciptakan bentuk, gaya, warna ataupun ragamnya yang sama.
Karya seni grafis umumnya dibuat di atas kertas. Pada teknik monotype, prosesnya mampu menciptakan salinan karya yang sama dalam jumlah banyak. Ini yang disebut dengan proses cetak. Seni grafis diciptakan di atas permukaan yang disebut dengan plat (medium cetak). Plat yang dijadikan sebagai media ini meliputi papan kayu, logam, lembaran kaca akrilik, lembaran linoleum atau batu litografi. Seni grafis lain yang disebut dengan cetak saring menggunakan lembaran kain berpori (sreen – printing) yang direntang pada sebuah kerangka.

Sehingga kegiatan mencetak merupakan suatu cara memperbanyak gambar dengan alat cetak / acuan / klise. Alat cetak (klise) tekniknya dengan menggores atau mencukil pada sekeping papan, logam atau bahan lainnya seperti plat logam (kuningan atau alumunium). Hasil cetakan menunjukkan kreatifitas maupun keterampilan penciptanya.
Hasil cukilan diolesi tinta dengan alat rol, kemudian dilekatkan pada selembar kertas dan ditekan / press. Tinta dari acuan melekat pada kertas inilah yang disebut dengan cetak grafis.
Dewasa ini, tidak semua kegiatan mencetak termasuk dalam kategori seni grafis. Sebab, pada zaman sekarang ini, kegiatan mencetak hanya memproduksi gambar / tulisan secara massal yang sering disebut Offset. Kegiatan Offse seperti ini menggunakan percetakan modern. Kegiatan mencetak dengan mesin ini mengacu pada seni pakai, maka berkembanglah sebuah seni mencetak yang mengacu pada seni pakai (Applied Art) yang sebelumnya seni murni (Pure Art).

Seni grafis di Indonesia awalnya merupakan media alternative bagi seniman yang telah mengerjakan bidang lainnya seperti melukis atau mematung. Secara kronologis, seni grafis muncul sekitar tahun 1950 –an, tokohnya adalah Mohtar Apin, Haryadi Suadi dari Bandung, Suromo dan Abdul Salam dari Yogyakarta. Membuat karya dengan teknik cukil kayu (woodcut) dan kebanyakan dari karyanya merupakan poster perjuangan.
B.     Jenis Karya Seni Grafis dan Teknik.
Pembagian jenis grafis dilakukan berdasarkan teknik pembuatannya. Bahan dan alat yang dipakai juga beragam sesuai teknik yang digunakan. Jenis – jenis seni grafis berdasarkan teknik pembuatannya dapat dibedakan sebagai berikut ;
1.      Cetak Tinggi (Teknik Cetak Relief / Teknik Cukil).
Cetak tinggi menggunakan klise / acuan / alat cetak yang akan menghasilkan gambar dari bagian yang menonjol. Apabila alat cetak dioles dengan tinta, bagian yang menonjol itu akan menerima tinta. Jika klise / alat cetak itu ditempelkan pada kertas kemudian diangkat, maka tampaklah gambar pada kertas.
Stempel merupakan salah satu alat untuk mencetak gambar atau tulisan dengan Teknik Cetak Tinggi. Cetak Tinggi disini dengan memanfaatkan bentuk / permukaan yang paling tinggi dapat kita lihat adanya gambar atau tulisan yang timbul yang nantinya akan menghasilkan suatu gambar atau tulisan pada benda yang diberi warna.
2.      Cetak Dalam (Intaglio Print).
Cetak Dalam adalah seni cetak yang menggunakan klise dalam, artinya bagian dalam menyerap tinta dan akan membekas pada kertas. Jenis – jenis Cetak Dalam antara lain : Etsa, Mezzo Tint, Drypoint, dll. Cetak Dalam dibuat dengan bahan cetakan dari aluminium atau kuningan yang permukaannya ditoreh hingga menghasilkan goresan yang dalam. Tinta lalu dituangkan, diratakan atau dirolkan pada bagian yang dalam tersebut. Kertas yang sudah dilembapkan dengan air, lalu diletakkan di atasnya. Tinta akan melekat pada kertas dan terbentuklah gambar atau tulisan sesuai yang diharapkan. Alat yang dipakai untuk menorah dapat berupa pahat grafis, paku, jarum, burin atau logam runcing.
3.      Cetak Datar (Planography Print).
Cetak Datar adalah teknik cetak yang menggunakan klise datar dengan prinsip saling menolak dan menerima antara tinta dan air. Cetak datar adalah memperbanyak hasil cetakan dengan media permukaan yang datar. Teknik ini ditemukan pada abad ke – 16 di Eropa. Klise cetak ini menggunakan batu cadas (Limestone), biasa di sebut dengan Lithography. Selain batu, sekarang dapat juga menggunakan lempengan logam (seng) untuk memperingan proses kerja. Planografi (Cetak Datar) dimana matrix permukaannya tetap, hanya mendapat perlakuan khusus pada bagian tertentu untuk menciptakan Image / Gambar. Teknik ini meliputi : Litigrafi, Monotype dan Teknik Digital, salah satunya Cetak Offset.
4.      Cetak Saring.
Cetak Saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (Screen) dengan kerapatan serat tertentu. Cetak Saring dikenal dengan sablon atau Senigrafi. Sablon tersebut banyak digunakan untuk mencetak tulisan maupun gambar pada permukaan datar atau rata, misalnya untuk mencetak tulisan atau gambar pada kertas, kaos, kain spanduk, undangan, plastic dan media lainnya. Kain screen ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar.

Sumber: https://www.erwinedwar.com/2020/03/seni-grafis-materi-seni-budaya-kelas-ix.html?m=1

Minggu, 25 Oktober 2020

Materi Kelas 8: Iringan Tari Tradisional

 

Iringan Tari Tradisional  

A.    Jenis Musik Iringan.
Keragaman iringan tari pada dasarnya hanya dibedakan atas dua bentuk iringan yaitu pentatonic dan diatonic.
1.      Pentatonis.
Pentatonic  merupakan iringan yang bersumber pada alat - alat music tradisi.
2.      Diatonis.
Diatonic bersumber pada alat - alat music modern.
Namun demikian pada perjalanan waktu kedua jenis notasi music ini sering berdampingan untuk mengiringi tarian. Jadi setiap dalam music memiliki dua notasi tersebut. Iringan tari hampir di semua negara hanya menggunakan kedua notasi iringan tersebut, yang membedakan hanya alat yang digunakan.
Perbedaan penggunaan alat akan berdampak pada bunyi yang dihasilkan. Perbedaan bunyi ini berakibat pada respon gerak yang ditimbulkan.
1.      Respon Gerak yang Berlawanan dengan Iringan.
Yaitu respon gerak yang dilakukan dengan gerakan dinamis dan penuh kekuatan, sementara music yang digunakan mengalir dan lembut.
2.      Respon Gerak yang Sesuai dengan Iringan.
Yaitu gerak yang dilakukan mengikuti dinamika iringan tersebut. Jika iringan dilakukan dengan music mengalir, maka gerak yang dilakukan juga akan mengalir. Jika music yang digunakan menghentak gerak yang dilakukan juga akan dinamis dan penuh dengan energy.
Musik yang digunakan dalam tarian disebut iringan tari. Ada beberapa macam bentuk iringan yang digunakan untuk mengiringi tarian.
1.      Iringan Tari Internal.
Iringan tari yang terjadi karena gerakan – gerakan penari itu sendiri misalnya suara tepukan tangan ke tubuh, hentakan kaki ke lantai, serta bunyi – bunyi lain yang timbul disebabkan oleh pakaian atau perhiasan yang dikenakannya. Beberapa contoh iringan internal pada tari tradisional misalnya Tari Saman dengan tepukan tangan ke tubuh dengan selingan nyanyian, tari berlian dengan gemerincing gelang – gelang logam yang dikenakan penari, bunyi piring – piring dengan logam yang dikenakan pada tari lilin, serta pada tari Gending Sriwijaya yaitu jentikan – jentikan kuku logam yang dikenakan penari.
2.      Iringan Tari Eksternal.
Iringan tari yang dilakukan oleh orang lain, baik dengan kata – kata, nyanyian maupun dengan orkestrasi music yang lebih lengkap. Jadi iringan tari tidak lagi dilakukan oleh penari sendiri, akan tetapi dilakukan oleh orang lain atau lebih dikenal dengan pemusik. Pemusik bisa menggunakan macam – macam alat music orkestrasi atau gamelan yang lebih lengkap atau dengan kata – kata, nyanyian maupun vocal lainnya. Iringan tari Eksternal itu dapat dilakukan dari nyanyian, kata – kata, pantun, permainan alat – lat music sederhana sampai orkestrasi yang besar yaitu music simfoni, perangkat gamelan salendro maupun pelog, music tradisi talempong dan juga iringan – iringan suara atau music rekaman.
B.     Fungsi Musik Iringan.
Pengetahuan tentang iringan tari penting karena dapat membantu menentukan dan memilih atau membuat iringan sesuai dengan tema yang diinginkan. Iringan tari juga akan membantu dalam melakukan eksplorasi gerak. Iringan didalam tari merupakan satu kesatuan. Melalui iringan tari suasana dapat dibangun. Iringan tari juga memberi irama pada setiap gerak yang dilakukan. Pengetahuan tentang iringan tari semakin banyak akan semakin baik sehingga memiliki banyak pilihan.
Musik sebagai pencipta suasana. Musik dapat dipilih sesuai dengan suasana yang dibutuhkan oleh tari. Iringan tari sebagai penciptaan suasana dapat berlawanan dengan suasana tarinya. Didalam tari tradisi lebih banyak dipergunakan music pengiring yang memiliki sifat atau watak yang sama dengan sifat atau watak tarinya.


C.    Membuat Musik Iringan.
Di samping pertimbangan ritmis dan suasana rasa, iringan tari juga dipilih berdasarkan gaya dan bentuknya. Didalam tari – tarian tradisi di Indonesia, pelaksanaannya selalu diiringi oleh music – music daerah yang bersangkutan, yang memiliki bentuk dan gayanya yang khas, musiknya selalu tampak serasi dengan gaya dan bentuk tariannya.
Ketika mendengar gamelan Jawa, Sunda, bali serta music Melayu dari daerah Sumatera, akan terbayang gaya tarian masing – masing. Ada hubungan erat antara gerak tari dengan ekspresi tarinya. Pada tari dengan gaya gerak klasik, kerakyatan atau yang bersifat kedaerahan memiliki iringan music sendiri yang lebih sesuai.

Hubungan tarian dengan music pengiringnya dapat terjadi pada aspek bentuk, gaya, ritme, suasana atau gabungan dari aspek – aspek itu. Banyak cara yang dapat dipakai untuk mengiringi sebuah tarian. Semua cara yang dipakai, dasar pemilihannya harus dilandasi oleh pandangan penata iringan dan maksud penata tari, dengan demikian iringan dan tari selalu menyatu. Iringan tari dipilih untuk menunjang tarian yang diiringinya, baik secara ritmis maupun emosional. Dengan perkataan lain, sebuah iringan tari harus mampu menguatkan atau menegaskan makna tari yang diiringinya agar selalu selaras seirama serta serasi.

Pelajaran Seni Budaya tentang Wiraga,Wirama,Wirasa,dan Wirupa

Kali ini saya menuliskan rangkuman materi Seni Budaya Wiraga,Wirama,Wirasa,dan Wirupa.Semoga dapat bermanfaat bagi teman siswa-siswi sekolah.
Wiraga = -peragaan atau sikap dan gerak dari seluruh anggota tubuh.
-Penguasaan ketrampilan gerak dalam tari.
Wirama = -ketukan / irama dan dinamika perpindahan sikap gerak yang selaras dalam
tari.
-kemampuan membedakan frase-frase yang menjadi bagian pokok dalam musik.
Wirasa = -ekspresi raut muka /mimik yang menggambarkan karakter tarian.
-penghayatan gerak sesuai dengan tuntutan tarian.
Wirupa = penampilan penari dari ujung atas sampai ujung bawah (performers).
Semoga rangkuman materi ini dapat bermanfaat bagiteman siswa sekolah.

Sumber: 
http://www.erwinedwar.com/2018/09/iringan-tari-tradisional-materi-seni.html?m=1
http://bahanpelajaransekolah.blogspot.com/2011/03/pelajaran-seni-budaya-tentang.html?m=1




Materi kelas 9: Unsur Pendukung Tari Kreasi

 

Unsur Pendukung Tari Kreasi

A.    Unsur Pendukung Tari.
Tari sebagai bentuk seni merupakan salah satu sajian pertunjukan yang mengarah pada estetika manusia. Keindahan dalam tari hadir demi suatu kepuasan, kebahagiaan dan harapan batin manusia, baik sebagai pencipta, penari maupun penikmatnya. Kehadiran tari di depan penikmat / penonton bukan hanya menampilkan serangkaian gerak yang tertata baik, rapid an indah semata, melainkan juga perlu dilengkapi dengan berbagai unsur pendukung dalam penampilannya. Dengan demikian, tari akan mempunyai daya Tarik atau pesona bagi penonton yang menikmatinya.
Unsur – unsur pendukung dalam tari antara lain adalah iringan (music), tata busana (kostum), tata rias, tempat, tata lampu dan tata suara (sound).
1.      Iringan (Musik).
Music dan tari merupakan pasangan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keberadaan music didalam tari memiliki tiga aspek dasar yang kaitannya dengan tubuh dan kepribadian manusia, yaitu Melodi, Ritme dan Dramatik. Ketiga aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.      Melodi.
Sumber melodi dapat kita ketahui dari rangkaian nada – nada.
b.      Ritme.
Ritme adalah degupan dari music yang sering ditandai dengan aksen / tekanan yang diulang – ulang secara teratur.
c.       Dramatik.
Dramatic yaitu suara – suara yang dapat memberikan suasana tertentu. Salah satu contoh yaitu Tari Uncul yang diiringi music Sampyong. Music Sampyong tersebut berasal dari bamboo.
2.      Property Tari.
Property merupakan semua peralatan yang digunakan untuk pementasan tari. Property tari pada dasarnya dapat digunakan untuk memberikan keindahan bentuk pada pertunjukan tari agar garapan tari akan terlihat lebih sempurna.
Penggunaan property tari harus mempertimbangkan jenis, fungsi dan ketepatan dalam menggunakan property tari dengan baik dan benar. Hal ini dikarenakan dalam penggunaan property tari perlu penguasaan dan keterampilan dari seorang penari. Kualitas penguasaan dan keterampilan dari seorang penari atas property tari yang digunakan menjadi salah satu teknik tari yang dibutuhkan dalam format garapan tari yang berkualitas. Property tari banyak ragam, bentuk dan fungsinya.Property tari yang digunakan antara lain selendang, tongkat, keris, payung, piring, panah, pohon – pohonan, dsb.
3.      Tata Rias dan Busana Tari Kreasi.
Busana dan tata rias pada seni tari adalah sarana pembantu yang berperan mendukung pertunjukan tari. Sementara itu, aksesori adalah bagian dari busana. Busana dan tata rias sebagai sarana pembantu, artinya bahwa tanpa busana (termasuk aksesori) atau hanya dengan gerak saja, maka suatu pertunjukan tari telah terjadi.
Tata busana atau pakaian adalah segala sesuatu yang dikenakan atau melekat dengan seorang penari. Busana penari merupakan sarana pembantu yang berperan mendukung perwujudan tari. Busana tari dapat dikelompokkan kedalam lima (5) bagian, yaitu : 
a.       Pakaian dasar.
b.      Pakaian kaki atau sepatu.
c.       Pakaian tubuh
d.      Pakaian kepala
e.       Perlengkapan – perlengkapan.
Tata rias dan busana tari kreasi begitu terbuka terhadap perubahan. Hal tersebut berbeda dengan tata rias dan busana tari tradisi dengan desain yang baku. Penggunaan tata rias dan busana tari kreasi bebas sesuai dengan karakter atau keinginan koreografer (penyusun tari)

4.      Tempat Pentas.
Suatu seni pertunjukan selalu memerlukan tempat atau ruangan guna menyelenggarakan pertunjukan itu sendiri. Di Indonesia, kita dapat mengenal bentuk – bentuk tempat pertunjukan (pentas), seperti lapangan terbuka atau arena terbuka, di pendapa dan bentuk panggung Proscenium.
Pada tempat terbuka, kita dapat menyaksikan pertunjukan – pertunjukan tari yang diselenggarakan di halaman. Pertunjukan tari tradisional di lingkungan rakyat sering dipergelarkan di lapangan terbuka. Dalam kalangan bangsawan, pertunjukan kesenian sering diadakan di pendapa, yaitu suatu bangunan yang berbentuk joglo dan bertiang pokok empat, tanpa penutup pada sisi – sisinya. Sedangkan panggung proscenium, penonton hanya dapat melihat dari sisi depan saja.

5.      Tata Lampu dan Tata Suara.
Sarana dan prasarana yang ideal bagi sebuah pertunjukan tari adalah jika gedung pertunjukan telah dilengkapi dengan peralatan yang menunjang penyelenggaraan pertunjukan, khususnya tata lampu (Lighting) dan tata suara (Sound System). Tata lampu dan tata suara sebagai unsur pelengkap sajian tari yang berfungsi untuk kesuksesan pergelaran.
Sebuah penataan lampu dapat dikatakan berhasil jika dapat memberikan kontribusi terhadap objek – objek yang ada di dalam pentas, sehingga semua yang ada di pentas Nampak hidup dan mendukung sajian tari. Dalam penataan suara, dapat dikatakan berhasil jika dapat menjadi jembatan komunikasi antara pertunjukkan dengan penontonnya. Artinya, penonton bisa mendengar dengan baik dan jelas tanpa gangguan apapun sehingga terasa nyaman

Sumber: http://www.erwinedwar.com/2020/03/unsur-pendukung-tari-kreasi-materi-seni.html?m=1


Senin, 19 Oktober 2020

Materi kelas 8: Keunikan Gerak Tari Tradisional

 

Keunikan Gerak Tari Tradisional

A.    Keunikan Gerak Tari Tradisional.
Motif gerak merupakan salah satu keunikan pada tari. Motif gerak dapat dilihat pada gerak tangan, gerak kaki, gerak kepala atau gerak anggota tubuh lainnya.
1.      Pada keunikan gerak kaki seperti tari berasal dari Papua. kaki bergerak secara ritmis dan dinamis.
2.      Tari daerah Sulawesi Selatan seperti Pagelu memiliki ciri gerak dengan kaki yang tertahan pada lantai.
3.      Keunikan gerak pada mata dapat dijumpai pada Tari bali dengan gerakan bola mata ke kanan ke kiri secara cepat. Ekspresi tari terwakili pada gerakan mata ini.
4.      Keunikan motif gerak pada jari – jari tangan dapat dijumpai pada tari Gendhing Sriwijaya. Lentikan jari – jari tangan merupakan kekuatan tarian ini.
5.      Pada tari Minang juga dapat dijumpai pada gerakan tangan yang kuat, terkadang mengalun tetapi terkadang patah – patah. Motif gerak Minang banyak dipengaruhi oleh motif gerak pencak silat.
6.      Keunikan gerak pada tangan juga dapat ditemukan pada tari Jawa gaya Surakarta maupun Yogyakarta. Bentuk – bentuk jari tangan mencirikan karakter tari misalnya karakter gagah atau halus.
7.      Keunikan pada gerak jari tangan juga dijumpai pada tarian Dayak melalui bulu – bulu burung enggang yang diselipkan pada jari – jari tangan.

Keunikan gerak juga dapat dilihat dari ragam. Ragam gerak merupakan kumpulan dari beberapa motif. Pada ragam “ Meniti Batang” pada tari melayu misalnya, ada koordinasi antara motif gerak kaki, tangan dan juga badan.
Setiap tari tradisional memiliki keunikan ragam gerak yang menjadi ciri khas tarian. Melakukan ragam gerak tradisional haruslah sesuai dengan kaidah yang berlaku dan sesuai tarian berasal.
B.     Jenis Penyajian Tari Tradisi.
Pertunjukan tari tradisi secara penyajian dapat dibedakan menjadi :
1.      Tari Tunggal.
Tari tunggal adalah tarian yang memang dibawakan hanya oleh satu orang saja. Contoh tari tradisi tunggal misalnya tari Topeng Ronggeng dari Betawi.
2.      Tari Berpasangan.
Tari berpasangan adalah tarian yang dilakukan oleh dua orang, baik laki – laki dengan laki – laki, perempuan dengan perempuan atau laki – laki dengan perempuan. Prinsip pada tari berpasangan antara lain :
a.       Adanya gerakan saling mengisi.
b.      Adanya gerakan saling interaksi.
c.       Merupakan kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dalam penyajian.
Contoh Tari Tradisi berpasangan yang dilakukan antara dua orang seperti tari Payung dari Sumatra Barat yang diciptakan oleh Huriah Adam.
3.      Tari Berkelompok.
Tarian berkelompok adalah tarian yang dilakukan oleh laki – laki, perempuan atau campuran antara laki – laki dengan perempuan. Tarian berkelompok ini sering dijumpai pada panggung – panggung pertunjukan. Contoh tari berkelompok misalnya tari Cente Manis dari Betawi, Burung Enggang dari Kalimantan, Tifa dari Papau, Yosim Pancer dari Papau dan Tari Belibis dari Bali.
Drama tari merupakan bentuk penyajian tari yang memiliki desain dramatic. Ada dua Desain Dramatik, yaitu :  
1.      Kerucut Tunggal.
Desain Kerucut Tunggal artinya dalam satu pertunjukan tari hanya ada titik klimaks kemudian menurun.
2.      Kerucut Ganda.
Pada desain kerucut ganda pada pertunjukan terdapat beberapa klimaks sebelum akhirnya turun. Contoh paling terkenal adalah cerita Matah Ati yang bersumber pada gerak tari gaya Mangkunegaran. Drama tari ini merupakan bentuk tradisi yang bersumber pada tari tradisi Jawa Tengah
Pada peragaan dramatari selain menguasai secara aspek gerak juga aspek ekspresi. Untuk mendukung cerita harus mampu menerjemahkan naskah menjadi gerak tari. Kemampuan menyanyi juga diperlukan untuk tokoh – tokoh tertentu, karena dialog biasanya dilakukan dengan cara menyanyi.

Jika pementasan drama lebih menekankan pada spek dialog dan juga monolog maka pada dramatari aspek penting adalah bahasa gerak. Penari harus mampu menyampaikan makna melalui gerak tari dan ekspresi.
Tari bertema dapat dijumpai hampir di semua jenis penyajian tari, baik tari tunggal, tari berpasangan, tari berkelompok maupun tari bercerita. Tema pada tari erupakan ide yang kemudian diwujudkan dalam bentuk judul tari dan pada akhirnya diekpresikan melalui gerak.
Penyajian tari tradisi baik dalam bentuk tunggal, berpasangan, berkelompok maupun drama tari memerlukan unsur pendukung tari antara lain tata rias dan tata busana. Tata rias dan tata busana memiliki peran penting pada pementasan untuk mendukung karakter tari yang hendak disampaikan. Pada drama tari unsur pendukung tari dalam bentuk tata rias dan tata busana memiliki peran penting karena dapat menunjukkan tokoh dan karakter dapat divisualisasikan. Setiap tokoh memiliki keunikan dan kekhasan dari tata rias dan tata busananya. Tari – tarian di Indonesia memiliki kekayaan keunikan tata rias dan tata busana karena setiap daerah memiliki ciri masing – masing. Berdasarkan tata rias dan tata busana seseorang dapat menebak dari mana tarian itu berasal.
Setiap tari memiliki tata raias dan tata busana tersendiri. tata rias dan tata busana juga berkaitan dengan tema tari dan karakter tari yang dibawakan. tata rias dan tata busana untuk penari pria berbeda dengan penari wanita. perbedaan ini juga untuk semua nama tari.
Tata rias dan tata buasana tari tradisi biasanya masih tetap berpijak pada tata rias dan tata busana tradisional. hal ini untuk menunjukkan identitas pengembangan gerak yang dilakukan sesuai dengan daerahnya. Penonton melalui tata rias dan tata busana yang dikenakan akan mengetahui dari mana gerak tari tradisi itu dikembangkan.

Sumber: http://www.erwinedwar.com/2018/09/keunikan-gerak-tari-tradisional-materi.html?m=1

MATERI KELAS 7. PENGOLAHAN RUANG, WAKTU, DAN TENAGA SESUAI IRINGAN

 PENGOLAHAN RUANG, WAKTU, DAN TENAGA SESUAI IRINGAN Bentuk penyajian tari dapat berupa tari tunggal, tari berpasangan, dan tari berkelompok....